Mei 6, 2026
Home » Makna Grebeg Maulud Keraton Yogyakarta 2025 dan Rangkaian Acara Lengkap
1250855a-f67f-4ff9-afd9-d56a1391b798.webp.webp

Ilustrasi Makna Grebeg Maulud Keraton Yogyakarta 2025 dan Rangkaian Acara Lengkap/kratonjogja

KABAR JAWA – Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menggelar Hajad Dalem Garebeg Mulud atau Grebeg Maulud untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW pada Tahun Dal 1959.

Perayaan budaya ini berlangsung sejak 29 Agustus hingga 5 September 2025 dengan prosesi puncak berupa kirab gunungan hasil bumi.

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali mengadakan tradisi besar yang selalu dinanti masyarakat, yakni Hajad Dalem Garebeg Mulud atau lebih dikenal dengan Grebeg Maulud.

Prosesi budaya ini digelar untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dan pada tahun 2025 bertepatan dengan Tahun Dal 1959 dalam penanggalan Jawa.

Pelaksanaan Garebeg Maulud tahun ini dimulai pada Jumat, 29 Agustus 2025, dan ditutup dengan puncak acara pada Jumat, 5 September 2025.

Selama sepekan penuh, rangkaian kegiatan adat, spiritual, dan budaya diselenggarakan secara berurutan, melibatkan kerabat keraton, abdi dalem, hingga masyarakat umum.

Contents

Filosofi Grebeg Maulud dan Kehadiran Gunungan

Grebeg Maulud tidak hanya menjadi perayaan lahirnya Nabi Muhammad SAW, tetapi juga wujud syukur serta doa bersama masyarakat Yogyakarta.

Dalam tradisi ini, gunungan menjadi ikon utama. Gunungan adalah tumpukan hasil bumi, makanan tradisional, dan berbagai simbol kehidupan yang dirangkai menyerupai gunung.

Jumlah gunungan yang dibawa mencapai enam buah dengan jenis berbeda, yaitu dua gunungan lanang, satu gunungan wadon, satu gunungan gepak, satu gunungan darat, dan satu gunungan pawuhan.

Seluruhnya dihiasi dengan hasil bumi seperti jagung, kacang panjang, cabai, telur merah, serta aneka jajanan pasar. Kehadiran gunungan melambangkan kesejahteraan, kemakmuran, dan doa agar hasil bumi melimpah.

Salah satu gunungan bahkan dikirim menuju Pura Pakualaman serta Lapangan Sewandanan dengan pengawalan khusus, termasuk lima ekor gajah.

Tradisi rebutan gunungan oleh masyarakat di akhir prosesi dipercaya sebagai bentuk komunikasi simbolis antara raja dan rakyatnya.

Melalui pemberian hasil bumi tersebut, raja menunjukkan kepedulian dan perhatian terhadap kesejahteraan rakyat.

Selain gunungan, prosesi ini juga menghadirkan simbol lain yang penuh makna. Telur merah atau endog abang dipercaya sebagai penolak bala, sementara kinang yang dikunyah bersamaan dengan alunan gamelan diyakini membawa berkah dan membuat awet muda.

Semua simbol ini mengajarkan nilai spiritual, kebersamaan, dan rasa syukur dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Jadwal Lengkap Grebeg Maulud Keraton Yogyakarta 2025

Berikut rangkaian kegiatan Grebeg Maulud tahun 2025 yang sudah dijadwalkan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat:

  1. Miyos Gangsa
    • Jumat, 29 Agustus 2025 (19.30 – 00.00 WIB)
    • Lokasi: Bangsal Pancaniti hingga Pagongan Masjid Gedhe
    • Diawali dengan penyebaran udhik-udhik sebagai simbol berbagi rezeki.
  2. Kajian Maulid Nabi Muhammad SAW
    • Sabtu, 30 Agustus – Rabu, 3 September 2025
    • Lokasi: Masjid Gedhe, selepas salat Ashar dan Isya
    • Terbuka untuk umum.
  3. Gladhi Resik Prajurit
    • Minggu, 31 Agustus 2025 (06.30 WIB – selesai)
    • Rute: Kamandungan Kidul – Keben – Pagelaran – Masjid Gedhe
    • Latihan kesiapan pasukan kirab.
  4. Numplak Wajik
    • Selasa, 2 September 2025 (15.30 WIB – selesai)
    • Lokasi: Panti Pareden, Kompleks Magangan
    • Penyusunan gunungan dari hasil bumi dan jajanan tradisional.
  5. Kondur Gangsa dan Jejak Banon
    • Kamis, 4 September 2025 (19.00 WIB – tengah malam)
    • Lokasi: Pagongan dan halaman Masjid Gedhe
    • Diawali dengan pembagian udhik-udhik serta prosesi simbolis Jejak Banon yang hanya digelar setiap delapan tahun sekali.
  6. Mbethak (khusus internal keraton)
    • Kamis, 4 September – Jumat, 5 September 2025
    • Lokasi: Bangsal Sekar Kedhaton
    • Dilaksanakan secara tertutup.
  7. Puncak Garebeg Mulud
    • Jumat, 5 September 2025 (09.00 WIB)
    • Rute: Dari Pagelaran menuju Masjid Gedhe
    • Prosesi utama berupa kirab prajurit keraton dan pembagian enam gunungan untuk masyarakat.
  8. Pisowanan Garebeg Mulud Dal (tertutup)
    • Jumat, 5 September 2025 (11.00 WIB)
    • Lokasi: Bangsal Kencana
    • Hanya dihadiri keluarga keraton dan tamu undangan.
  9. Ringgitan Bedhol Songsong (tertutup)
    • Jumat, 5 September 2025 (19.30 WIB)
    • Lokasi: Tratag Gedhong Prabayeksa
    • Menjadi penutup rangkaian acara, disiarkan langsung melalui YouTube resmi Keraton Yogyakarta.

Imbauan Selama Prosesi

Untuk menjaga ketertiban dan kekhidmatan, pihak keraton meminta masyarakat agar tidak menerbangkan drone di sekitar area prosesi.

Selain itu, wisata Kedhaton akan ditutup sementara pada Jumat, 5 September 2025, bersamaan dengan puncak Garebeg Mulud.

Pengunjung yang berencana datang disarankan menjadwalkan ulang kunjungan.

Warisan Budaya yang Hidup hingga Kini

Grebeg Maulud di Keraton Yogyakarta merupakan tradisi yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu dan tetap dilestarikan hingga kini.

Prosesi ini tidak sekadar perayaan budaya, melainkan juga sarana spiritual yang memperkuat kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad SAW.

Dengan simbol-simbol yang menyertai, Grebeg Maulud mengajarkan nilai berbagi, kebersamaan, serta hubungan erat antara pemimpin dengan rakyat.

Tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana budaya dan agama dapat berpadu dalam wujud ritual yang penuh makna.

Bagi masyarakat maupun wisatawan, menyaksikan Grebeg Maulud bukan hanya pengalaman budaya, tetapi juga kesempatan untuk merasakan langsung kekayaan tradisi Yogyakarta yang masih terjaga hingga kini.

***

Pusat Informasi Terkini

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *