
KABAR JAWA – Berbicara soal tradisi Jawa memang tidak pernah ada habisnya. Setiap daerah memiliki kebiasaan yang sarat makna, penuh simbol, dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu yang menarik untuk diulas adalah tradisi Bancakan Sego Ulih, sebuah prosesi yang sampai saat ini masih dijalankan, khususnya di masyarakat Temanggung, Jawa Tengah.
Tradisi ini biasanya dilakukan ketika terjadi gerhana, baik gerhana bulan maupun gerhana matahari, dan ditujukan secara khusus bagi ibu hamil.
Meskipun rangkaian acaranya tidak terlalu panjang, namun setiap tahapan dalam tradisi ini menyimpan filosofi yang mendalam.
Contents
Apa Itu Tradisi Bancakan Sego Ulih?
Jika dilihat sekilas, bancakan sebenarnya adalah kegiatan makan bersama di satu wadah, biasanya berupa tampah, sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang telah diberikan Tuhan.
Akan tetapi, tradisi Bancakan Sego Ulih memiliki kekhususan tersendiri. Tradisi ini diperuntukkan bagi ibu hamil yang tengah menghadapi fenomena gerhana.
Berdasarkan laman resmi Universitas Negeri Yogyakarta, diketahui pelaksanaan tradisi ini dimulai dari persiapan bancakan, dilanjutkan dengan prosesi menepuk perut ibu hamil dengan lembut, mandi kehamilan, kemudian ditutup dengan makan bersama.
Yang membedakan tradisi di Temanggung ini dengan tradisi bancakan di daerah lain adalah adanya mandi kehamilan sebelum bancakan.
Dahulu, tradisi ini juga kerap dilakukan secara mendadak karena masyarakat tidak bisa memprediksi kapan gerhana akan terjadi.
Namun kini, dengan teknologi modern, perhitungan waktu gerhana bisa diketahui lebih cepat sehingga persiapannya lebih matang.
Latar Belakang dan Mitos yang Menyertai
Masyarakat Jawa percaya bahwa saat gerhana terjadi, ada raksasa yang sedang menelan bulan atau matahari.
Dalam kepercayaan itu, raksasa dianggap dapat membawa bala atau malapetaka. Apabila ibu hamil tidak melakukan prosesi Bancakan Sego Ulih, dikhawatirkan bayi yang dikandung akan mengalami gangguan, baik secara fisik maupun mental.
Meski bagi sebagian orang hal ini dianggap mitos, namun tradisi ini tetap dijalankan hingga kini. Bagi masyarakat yang melaksanakannya, ritual ini bukan hanya sekadar warisan leluhur, tetapi juga bentuk ikhtiar agar sang bayi lahir dalam keadaan sehat dan selamat.
Makna Filosofi di Balik Prosesi
Setiap tahapan dalam tradisi Bancakan Sego Ulih menyimpan pesan simbolis yang dalam. Berikut makna filosofi dari prosesi tersebut:
Membangunkan janin saat gerhana berlangsung
Dalam kepercayaan Jawa, gerhana terjadi karena matahari atau bulan ditelan sosok raksasa buta.
Dengan menepuk perlahan perut ibu hamil, diyakini janin akan “dibangunkan” agar terhindar dari malapetaka.
Menanak nasi gurih dan telur
Prosesi ini melibatkan nasi gurih dengan tujuh butir telur. Nasi gurih menjadi simbol sedekah sebagai rasa syukur atas rezeki yang diberikan Tuhan.
Sedangkan tujuh butir telur melambangkan doa permohonan “pitulungan” atau pertolongan dari Tuhan agar senantiasa diberikan perlindungan.
Mandi kehamilan
Air dalam prosesi ini dimaknai sebagai simbol penyucian diri. Dengan mandi, diharapkan ibu hamil beserta janinnya terjaga dari hal-hal buruk dan mendapat ketenangan batin.
Bancakan atau makan bersama
Acara puncak ini menjadi ungkapan rasa syukur sekaligus doa bersama agar ibu hamil selalu diberi kesehatan hingga proses persalinan tiba.
Kekayaan Tradisi yang Tetap Lestari
Tradisi Bancakan Sego Ulih hingga kini masih dilestarikan, khususnya di wilayah Jawa Tengah.
Selain menjadi ritual yang diyakini membawa kebaikan bagi ibu hamil, tradisi ini juga memperlihatkan bagaimana kearifan lokal mampu membangun kebersamaan, rasa syukur, dan doa yang dipanjatkan secara kolektif.
Dengan demikian, Bancakan Sego Ulih juga telah bagian dari identitas budaya yang patut dijaga serta diwariskan kepada generasi selanjutnya.***
Pusat Informasi Terkini
Berita Olahraga
News
Berita Terkini
Berita Terbaru
Berita Teknologi
Seputar Teknologi
Drama Korea
Resep Masakan
Pendidikan
Berita Terbaru
Berita Terbaru
Berita Terbaru
