Juni 25, 2026
Home » Warga Karang Padang Gunungkidul Segel Akses Tambang Urug, Geram Jalan Cor Swadaya Rusak Dilintasi Truk
6228877515204707690.webp.webp

Warga Karang Padang saat menutup akses jalan menuju tambang urug dengan portal kayu dan spanduk penolakan. (Ef Linangkung)

KABARJAWA – Aroma ketidakadilan kian menyengat di Padukuhan Karang Padang, Kalurahan Serut, Kapanewon Gedangsari, Gunungkidul. Warga tak lagi bisa menahan amarah. Mereka geram dan mengambil langkah tegas.

Pada Minggu, 15 Juni 2025, warga secara serentak menutup akses menuju lokasi tambang urug yang selama ini menjadi sumber keresahan.

Mereka memasang portal kayu lengkap dengan tulisan penolakan yang mencolok: “Tolak Tambang! Kami Ingin Jalan Kami Kembali!”

Kemarahan ini bukan tanpa sebab. Aktivitas tambang urug telah menghancurkan ketenangan warga. Jalan cor yang belum lama dibangun melalui aspirasi anggota dewan kini berubah menjadi medan rusak yang penuh lubang.

Batu berserakan, debu mengepul, dan truk-truk besar hilir mudik tanpa henti. Warga merasa tidak dihargai.

Seorang warga yang enggan disebutkan namanya menyuarakan isi hatinya. Ia mengaku terganggu setiap kali melintasi jalan yang seharusnya menjadi akses utama menuju rumahnya.

“Kami warga Karang Padang sangat terganggu saat melintas. Jalan itu bukan milik pertambangan. Itu akses hidup kami,” tegasnya dengan nada kecewa.

Tuntutan Warga: Jalan Adalah Hak, Bukan Jalur Tambang

Warga menyampaikan bahwa jalan cor tersebut baru saja selesai dibangun. Mereka masih ingat betapa sulitnya proses perbaikan kala itu. Warga bergotong royong, merelakan tenaga, waktu, dan bahkan biaya secara swadaya demi mendapatkan jalan yang layak.

“Kami berjuang memperbaiki jalan itu. Belum sempat kami nikmati, tambang datang dan menghancurkannya. Bahkan masuk ke rumah saja sekarang susah,” paparnya lirih, menahan kesal.

Aktivitas tambang tak hanya merusak infrastruktur. Debu dan kebisingan siang malam telah mencabik ketenangan lingkungan.

Truk-truk tambang melaju tanpa memperhatikan keselamatan, bahkan saat anak-anak bermain di sekitar jalan. Warga menilai, keberadaan tambang ini menciptakan potensi bencana sosial dan lingkungan yang lebih besar.

Karena itu, warga Karang Padang bulatkan tekad. Mereka menolak tambang dengan keras dan tanpa kompromi.

“Kami sudah cukup bersabar. Hari ini kami sepakat menutup tambang. Jangan ada lagi aktivitas pertambangan di sini,” tandas warga secara kolektif.

Penutupan tambang ini menjadi bukti bahwa masyarakat kecil tidak bisa terus-menerus ditekan dan diabaikan. Ketika pemerintah diam, rakyat bergerak. Saat suara mereka tak didengar, aksi nyata pun berbicara lebih lantang.

Kini, portal penolakan berdiri kokoh di gerbang Karang Padang. Sebuah simbol perlawanan terhadap keserakahan yang mengorbankan kepentingan warga.

Mereka tak menolak pembangunan, tapi mereka menuntut keadilan. Jalan adalah nadi kehidupan, bukan jalur eksploitasi tambang.

Dan hari ini, Karang Padang bersatu demi menyelamatkan rumah mereka—dari kehancuran, dari kesewenang-wenangan, dan dari tambang yang merampas hak mereka.

Pusat Informasi Terkini

Berita Olahraga

News

Berita Terkini

Berita Terbaru

Berita Teknologi

Seputar Teknologi

Drama Korea

Resep Masakan

Pendidikan

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Berita Terbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *